Ini Pemicu Saham TUGU Rebound Setelah Koreksi

Oleh Tugu Insurance dipublikasikan pada 05 Februari 2026
Dibaca 1841 kali
Ini Pemicu Saham TUGU Rebound Setelah Koreksi

JAKARTA, investor.id – Harga saham PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) sempat mengalami koreksi saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok diterpa sentiment rebalancing MSCI. Namun harga saham anak usaha Pertamina Grup tersebut berhasil rebound dalam kurun waktu kurang dari satu minggu.

 

Pada perdagangan Kamis (5/2), harga saham TUGU ditutup di Rp1.250, naik 5,04% dibandingkan sehari sebelumnya. Padahal saham TUGU sempat ditutup terkoreksi 5,15% ke Rp1.115 pada 28 Januari 2026. Kondisi tersebut masih lebih baik dibandingkan IHSG yang anjlok signifikan sebesar 7,35% pada hari yang sama.

 

Tujuh hari berselang setelah kejadian tersebut, kondisi pasar mulai membaik. Dalam dua hari terakhir, IHSG berakhir finish di zona hijau dan pada perdagangan hari ini, IHSG ditutup di 8.103,88, melemah 0,53% dibandingkan sehari sebelumnya.

 

Jika dibandingkan dengan posisi IHSG pada 27 Januari 2026, sebenarnya indeks saham acuan nasional tersebut masih terkoreksi 9,76% mengingat posisi IHSG kala itu di 8.980,2. Kontras dengan IHSG, saham TUGU justru sudah pulih mengingat posisi penutupan pada 27 Januari 2026 berada di Rp1.180.

 

Analis Kharel Devin dari Trimegah Sekuritas menilai sentimen MSCI memang masih menjadi faktor yang dominan dalam menggerakkan pasar saham saat ini. Issue transparansi tentang free float saham-saham di Indonesia yang menjadi kekhawatiran investor turut memantik aliran modal asing keluar dari Indonesia.

 

“MSCI adalah sentimen yang dominan saat ini. Namun sebenarnya bukan berarti semua saham yang turun kinerjanya buruk. Beberapa saham bahkan masih menyimpan value yang atraktif untuk investasi jangka menengah panjang seperti TUGU,” kata Kharel dikutip di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

 

Menurutnya, koreksi harga saham TUGU yang relatif lebih terbatas dibandingkan dengan pasar ditengarai oleh beberapa faktor seperti komposisi dan kepemilikan asing. Kharel tidak menampik bahwa di sektor asuransi umum, saham TUGU punya likuiditas dan eksposur dana asing yang relatif tinggi dibandingkan dengan peers.

 

Namun Ia melihat jika dibandingkan dengan seluruh pasar (overall market), saham TUGU masih relatif kecil eksposurnya terhadap kepemilikan atau dana asing. Oleh sebab itu, dalam dua hari terakhir ketika terjadi capital outflows masif, saham TUGU masih relatif lebih baik kinerjanya dibandingkan IHSG.

 

Adapun faktor lain yang juga patut menjadi pertimbangan adalah karakter saham TUGU sebagai saham defensif dan undervalued. Kharel menjelaskan bahwa saham TUGU rutin membagikan dividen tiap tahun dengan imbal hasil yang atraktif dan valuasinya sangat atraktif.

 

“Tiga empat tahun terakhir payout 40% dan dividend yield 6-7%. Ini tergolong high yield karena lebih tinggi dari bunga deposito. Valuasi di 0,38x Price to Book Value (PBV) juga di bawah rata-rata valuasi peers di 0,6-0,7x PBV. Artinya potensi upsidenya masih tinggi,” tambah Kharel.

 

Terkait dividen, Kharel memprediksi bahwa TUGU mampu mempertahankan rasio pembayaran dividen (Dividend Payout Ratio) tetap di 40%. Sementara menurutnya laba bersih yang berpotensi dikantongi TUGU secara konsolidasi berpotensi tetap di atas Rp700 miliar.

 

“Kalau dilihat dari tren laba per segmen, dividen tunai setidaknya bisa di Rp291 miliar atau setara Rp82 per saham. Dengan harga sekarang yield bisa tembus 8,2%. Ini sangat atraktif. Ini bisa menjadi katalis positif untuk saham TUGU. Jika dalam short term sentiment masih volatile setidaknya kalaupun tidak rebound expect saham TUGU lebih stabil,” imbuhnya.

 

Menurut Kharel, TUGU berpotensi mengantongi laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp715-738 miliar untuk tahun buku 2025. Hal ini mempertimbangkan segmen asuransi umum yang sudah mengantongi laba Rp575 miliar dan segmen reasuransi dengan laba Rp172 miliar per Desember 2025.

 

Estimasi tersebut juga turut mempertimbangkan laba segmen usaha non asuransi umum dan reasuransi yang menyumbang 7-8% dari total laba TUGU serta adanya faktor penyesuaian dan eliminasi saat dilakukan konsolidasi.